Langsung ke konten utama

DILEMA ETIKA DAN BUJUKAN MORAL

DILEMA ETIKA DALAM PRAKTIK PENDIDIKAN

Berlangsung jam pelajaran kimia pada hari itu. Kegiatan pembelajaran dilakukan di laboratorium. Sebelum memulai praktikum, guru mengingatkan tentang peraturan di laboratorium. Saat praktik berlangsung, ada seorang peserta didik menjatuhkan peralatan yang harganya mencapai seratusan ribu rupiah. Sesuai peraturan di laboratorium jika ada peserta didik yang merusak / memecahkan peralatan, maka harus mengganti atau mengembalikan dalam bentuk uang seharga peralatan tersebut. Peserta didik tersebut nampak kebingungan dan ketakutan. Setelah diselidiki ternyata peserta didik menjatuhkan peralatan tanpa sengaja karena rasa kantuknya. Wajahnya pun terlihat agak kusam atau kurang bersemangat belajar. Menurut cerita teman-temannya hampir setiap hari si peserta didik tersebut tertidur beberapa menit di dalam kelas. Menurut pengakuan seorang temannya bahwa setiap malam peserta didik tersebut membantu ibunya berjualan makanan di pinggir jalan sampai pukul 24.00 bahkan terkadang lewat. Usai praktik berlangsung, masing-masing kelompok mengembalikan peralatan ke pengelola laboratorium. Guru pembimbing lansung melaporkan ke pengelola bahwa ada salah satu perlatan yang pecah karena terjatuh dan akan diganti oleh peserta didik dalam bentuk uang dalam waktu dekat. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, pengelola selalu menanyakan tentang peralatan yang pecah tersebut. Oleh guru pembimbing dijawab bahwa peserta didik sedang mengumpulkan uang dan sampai akhirnya masa ujian semester tiba. Peserta didik tersebut tidak diijinkan untuk mengikuti ujian semester sebelum mengganti peralatan tersebut. Walhasil melalui partisipasi teman-teman sekelasnya, peserta didik tersebut dapat mengikuti ujian semester.

Kisah di atas adalah salah satu dari sekian situasi yang saya pernah dihadapi selama menjalani profesi sebagai Guru di sekolah. Tidak sedikit pengalaman yang memposisikan diri diantara situasi rasa kasihan dan kejujuran atau tanggung jawab. Perbedaan kondisi ekonomi dan sosial peserta didik seringkali menjadi persoalan dan bukan pada peraturan ini dan peraturan itu. Peraturan ya peraturan dan terkadang berbeda jika dihadapkan pada tatanan penerapan nilai-nilai kebajikan. Peraturan tentang peserta didik laki-laki harus berambut cepak (mirip taruna sekolah kedinasan) juga sering menjadi problematika di sekolah. Demikian pula tentang dilarangnya peserta didik membawa handphone ke selolah karena berbagai alasan yang kekunoan bukan kekinian. Maka tidak jarang peraturan itu sendiri bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan. Sehingga penerapan peraturan dalam konteks pendidikan sering menimbulkan kegamangan yang di sebut dilema etika dan bujukan moral.

Melalui Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) Angkatan 3, saya mendapatkan pengetahuan dan pemahaman bagaimana membedakan dilema etika dan bujukan moral. Paparan materi dengan cara yang beragam menggambarkan diferensiasi pembelajaran konten. Deskripsi materi dalam bentuk tulisan, video, dan contoh-contoh kasus yang relevan memberikan infomasi yang lebih konkrit bahwa situasi yang saya hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai kebajikan yang sama-sama penting.

Dilema etika merupakan pertentangan antara nilai kebenaran melawan kebenaran (benar versus benar) sedangkan dilema (bujukan) moral merupakan pertentangan antara nilai kebenaran melawan kesalahan (benar versus salah). Bagaimana mengambil keputusan jika diperhadapkan pada dilema etika? Melalui sekumpulan fakta-fakta yang relevan, dapat mengidentifikasi 4 paradigma pengambilan keputusan, yakni Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Demikian pula dengan 3 prinsip dilema pengambilan keputusan yang meliputi Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Setelah melalui beberapa tahapan pengambilan keputusan tersebut, untuk meyakinkan diri terhadap keputusan yang dilematis tersebut perlu melakukan uji. Sembilan langkah pengujian keputusan meliputi:

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi

4. Pengujian benar atau salah, meliputi

-    Uji legal

-    Uji Regulasi (standar Profesional)

-    Uji Intuisi

-    Uji publikasi

-    Uji Panutan (Idola)

5.  Pengujian Paradigman Benar versus Benar

6.  Melakukan Prinsip Resolusi

7.  Investigasi Posi Trilema

8.  Buat keputusan

9.  Lihat lagi keputusan dan Refleksi

Bagaimana penerapannya dalam konteks pendidikan dan pengajaran sebelum dan sesudah menerima pengetahuan tentang dilema etika dan bujukan moral? Jika disimak kembali paparan kisah nyata pada awal paragraf, tersurat dengan jelas situasi yang terkait dengan topik dalam materi ini. Misalkan cerita berhenti pada situasi guru pembimbing menemukan peserta didik memecahkan peralatan praktik sebelum mengembalikan peralatan ke pengelola laboratorium. Sebagai seorang guru pembimbing praktik pasti berada dalam situasi dilematis antara melaporkan atau tidak melaporkan. Namun faktanya, guru pembimbing melaporkan peristiwa tersebut kepada pengelola laboratorium dan meminta waktu untuk menggantinya. Sekarang mari kita uji situasi tersebut dengan menggunakan 9 langkah pengujian keputusan:

1.   Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

Ada pertentangan nilai antara kejujuran atau tanggung jawab dan rasa kasihan. Sebagai guru bertanggungjawab atas pelaksanaan praktik sekaligus dengan kondisi peralatan dan keselamatan peserta didik, yaitu keselamatan, kesehatan kerja (K3).

2.   Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

      Atas dasar pertentangan nilai-nilai kebajikan seperti di atas (angka 1) bukankah ini suatu dilema etika? Lantas siapa yang terlibat? Yang pasti semua pihak yang mengetahui situasi tersebut akan merasa terpanggil / peduli, seperti semua peserta didik yang ada di kelas tersebut dan juga guru-guru tanpa terkecuali, termasuk orang tua peserta didik juga.

3.   Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi

Fakta-faktanya antara lain peserta didik memecahkan peralatan praktik, harga peralatan ratusan ribu rupiah, kejadian pada saat belajar di laboratorium, ada peraturan laboratorium, peserta didik dalam kondisi tidak sengaja (mengantuk), peserta didik (pelaku) sering tidur lewat dari jam 12 malam karena membantu ibunya jualan makanan.

4.   Pengujian benar atau salah, meliputi

-    Uji legal

Jika ditinjau dari aspek hukum secara hukum positif ternyata tidak ada aturan tentang mengganti peralatan atau hukuman pidana, namun yang ada adalah peraturan di laboratorium. Peraturan terebut tidak semestinya diberlakukan secara kaku karena pembentukannya tidak melalui mekanisme sebagaimana peraturan yang melibatkan semua komponen sekolah melainkan hanya sepihak oleh pengelola laboratorium. Seperti diungkapkan dalam video https://youtu.be/8r_VEIrPFVc bisa jadi peraturan itu sendiri yang salah secara prinsip sehingga ketika seseorang melakukan pengambilan keputusan, dia sedang melakukan kesalahan ganda.

-    Uji Regulasi (standar Profesional)

Secara etika profesi guru, tanggung jawab guru adalah menjaga keselamatan, keseahtan kerja (K3) saat belajar di ruang laboratorium. Pemecahan peralatan praktik oleh peserta didik tidak termasuk dalam pelanggaran dalam kode etik profesi. Jika saja peserta didik tidak mengembalikan atau mengganti dengan sejumlah uang, peserta didik tersebut tidak akan dihukum ataupun guru tidak akan dihukum secara etika.

-     Uji Intuisi

Pertanyaannya adalah apakah tindakan mengambalikan atau mengganti dengan sejumlah uang peralatan praktik yang pecah tersebut sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai bagi kebanyakan orang yang diyakini? Yang pasti jawabannya adalah “ya, bertentangan dengan nilai rasa kasihan / kepedulian” apalagi kebanyakan orang mengetahui permasalahannya bahwa peserta didik memecahkan peralatan tersebut tidak dengan sengaja melainkan karena menahan rasa kantuk yang teramat sangat karena selalu tidur di atas jam 12 malam membantu ibunya berjualan makanan.

-    Uji publikasi

Apa yang dirasakan guru pembimbing jika keputusannya melaporkan peserta didik memecahkan peralatan kemudian diminta untuk mengganti dengan sejumlah uang diketahui orang banyak (publikasi)? Yang pasti akan ada rasa ketidaknyamanan. Namun demikian kembali lagi pada prinsip pengambilan keputusan berbasis peraturan (ada peraturan laboratorium).

-    Uji Panutan (Idola)

Siapapun panutan, atau pihak yang merasa peduli dengan situasi dalam kisah nyata tersebut di atas akan mengambil keputusan yang senada dengan keputusan sang Guru.

5.   Pengujian Paradigman Benar versus Benar

Berdasarkan empat paradigma pengambilan keputusan (dilema etika) terkait dengan paradigma Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Paradigma ini memberikan pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Artinya ada pilihan antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar.  Namun demikian dapat pula diidentifikasi ke dalam paradigma Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Paradigma ini bersifat personal dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perlu memilih antara yang kelihatannya terbaik saat ini bagi si peserta didik yang memecahkan peralatan praktik sehingga masa yang akan datang tidak terulang kembali.

6.   Melakukan Prinsip Resolusi

Atas dasar prinsip resolusi (penyelesaian dilema), maka keputusan guru pembimbing pada saat itu memilih Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

7.   Investigasi Posi Trilema

Apakah ada opsi lain selain melaporkan peserta didik ke pengelola laboratorium? Yang pasti ada yakni tidak melaporkan namum secara persuasif menyampaikan kepada peserta didik terutama peserta didik dalam kelasnya untuk membantu saling berpartisipasi mengganti peralatan tersebut sehingga secara tidak langsung menambah penguatan nilai kebersamaan, toleransi, rasa peduli dengan sesama menjadi semakin kokoh di kalangan peserta didik tesebut.

8.   Buat keputusan

Jika saat kejadian di laboratorium tersebut telah mendapatkan materi tentang dilema etika ini, maka keputusan opsi ke dua akan menjadi pilihan. Yaitu tidak melaporkan, namun melakukan upaya persuasif kepada peserta didik untuk saling membantu berpartisipasi mengganti peralatan tersebut.

9.   Lihat lagi keputusan dan Refleksi

Dengan diambilnya keputusan tidak melaporkan kepada pengelola laboratorium atas dipecahkannya peralatan praktik oleh seorang peserta didik, maka kedepannya menjadi tanggung jawab bersama bilamana situasinya seperti dalam kisah nyata tersebut di atas atau sejenisnya (mengandung pertentangan nilai-nilai kebenaran namun bukan benar vs salah)

Setelah mempelajari beberapa kasus yang disajikan dalam paparan materi dalam modul 3.1, maka sangat jelas bahwa materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpina Pembelajaran menjadi begitu penting. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab untuk terus mempraktikkan setiap saat di sekolah bersama-sama dengan rekan-rekan sejawat (guru). Selain itu setiap keputusan yang dibuat oleh rekan sejawat menjadi penting untuk diajak berdiskusi menguji keputusan tersebut.

Sebagai Pemimpin pembelajaran, implementasi Dilema Pengambilan Keputusan haruslah terus menurus dilakukan terutama dalam hal pengujian pengambilan keputusan sebelum keputusan tersebut diumumkan / disampaikan. Sehingga pemahaman terhadap materi tersebut menjadi terus mendalam dan menjadi intuisi penting dalam mengemban tugas sebagai seorang guru di sekolah menginat "Sekolah adalah tempat penyemaian benih-benih nilai kebajikan".

Demikianlah singkatnya refleksi atas pembelajaran Dilema Etika yang telah dipahami.


Komentar