Langsung ke konten utama

Coaching dalam Konteks Pendidikan

Coaching dalam konteks Pendidikan

Kuda hitam berlari dengan sangat cepat
Berlari ke pantai dengan segera
Mari belajar menjadi coach yang hebat
wujudkan murid merdeka dan sejahtera
Shirley Puspitawati, M.Sc., M.Ed.
Simak situasi yang kadang pernah kita hadapi selama mengabdi menjadi seorang guru.
    Salah satu murid yang berbakat dalam olahraga, seni, atau apalah, tiba-tiba menolak mengikuti lomba dengan alasan yang terkadang tidak begitu logis, misalnya tidak percaya diri, terlalu khawatir tidak mendapat juara, menjadi ejekan teman-teman, dll. Pernah juga seorang murid nampak termenung / selalu menyendiri karena merasa diperlakukan tidak adil oleh seorang guru. Guru tersebut membuka les privat, dan sebagian besar murid di kelas mengikuti les privat tersebut, kecuali murid tersebut. Sehingga Murid tersebut merasa tidak nyaman ketika guru sering menyindir murid yang tidak mau ikut les privatnya. Bahkan, murid tersebut juga merasa bahwa nilai yang diberikan pun tidak adil, para murid yang mengikuti les guru tersebut mendapatkan nilai yang lebih baik dari murid tersebut. Atau kasus murid yang berkata "Pak / Bu, aku tuh kalau uda masuk kelas Pak AgsH, pikiran tuh langsung ambyar... byar... byar..."  
    Mungkin juga pernah Rekan kita bercerita jika ia baru saja mendapatkan teguran dari kepala sekolah hanya karena tidak memanfaatkan buku teks saat mengajar melainkan memanfaatkan sumber-sumber belajar lainnya. Ketika diingatkan pengawas tersebut, rekan Anda menyampaikan jika ia tetap mengacu pada kurikulum walaupun tidak menggunakan buku teks. Pengawas tersebut tampaknya tersinggung dan memberikan laporan tentang hal itu kepada kepala sekolah. Atau rekan kita datang bercerita tentang kesulitannya menghadapi murid-murid di kelas A. Padahal kita ejoy aja kalo ngajar di kelas itu. Bagaimana Anda menyikapinya?

Bedanya Coaching, Mentoring dengan Konseling

    Kita semua memahami jika murid kita bukanlah kertas kosong. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas kita adalah menjadikan latar belakang mereka sebagai pondasi kuat bagi kita dalam memimpin pembelajaran. Selain itu, Anda juga bertugas meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi mereka. Oleh karena itu, Anda diharapkan memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan anak didik untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi mereka.
   Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Mengapa keterampilan coaching? Pendekatan coaching dalam komunikasi diperlukan karena kita melihat para murid kita sebagai sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan tuntunan dari Anda sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk berupaya membantu permasalahan murid secara langsung dengan memberikan solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching dalam berkomunikasi, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menemukan solusinya secara mandiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka.

A. Pengertian Coaching
  • Menurut Grant, A. M. dalam Yuliawan (2011) menyatakan coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. 
  • Menurut Whitmore (2017) coaching merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.
  • Menurut Bresser dan Wilson (2010) coaching merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya, membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Inti dari coaching adalah memberdayakan orang dengan memfasilitasi pembelajaran diri, pertumbuhan pribadi, dan perbaikan kinerja.

B. Coaching dalam Konteks Sekolah

   Pendekatan Coaching saat ini sangat diperlukan dalam konteks pendidikan Indonesia. Pendekatan coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini sejalan dengan hakikat pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu ‘menuntun’ (bukan mengisi) tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu, keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Melalui pendekatan coaching, murid diberi kebebasan, namun pendidik sebagai ‘Pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Sistem Among, (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani), menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan Coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses Coaching. Sebagai seorang Guru dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah menghayati dan memaknai cara berpikir atau mindset Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara guru dan murid yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.
C. Coaching, Mentoring dan Konseling
    Sebagai guru, kita diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran, kita tentunya harus memainkan banyak peran. Terkadang, untuk menghadapi murid, kita harus menjadi seorang konselor. Suatu saat kita juga diharapkan menjadi mentor. Selain itu, terkadang kita juga harus menjadi seorang coach. Tentunya, sebagai guru, kita selalu menjadi mentor bagi murid dengan menyampaikan pengalaman yang kita miliki. Kita juga melakukan konseling dengan murid ketika mereka datang dengan permasalahan mereka. Nah, ketika kita harus menghadapi murid dengan berbagai potensinya dan kita berupaya untuk memaksimalkan potensi tersebut, kita seyogyanya berperan sebagai seorang coach. Mengapa kita harus berperan sebagai coach? Mari kita lihat ketiga metode pengembangan diri berikut?

  1. Seorang sopir yang sedang mengantar majikannya ke tempat Acara, tiba-tiba macet. Sang majikan kebingungan, acara tepat pukul 08.00 di mulai semtara macet. Akhirnya sang sopir mengajak majikan bercerita, tentang berbagai jalan alternatif yang pernah dilalui oleh Majikan. Dari 2 alternatif jalan yang diceritakan Majikan, sopir kemudian bertanya, "menurut bapak, jalan mana yang paling kecil resiko macetnya?"
  2. Sorang sahabat bertemu dengan teman lamanya dan menceritakan trauma mengemudikan mobil karena kecelakaan. Akhirnya si teman lama bercerita tentang pengalamannya yang tidak jauh berbeda dengan sahabatnya itu. Selain itu si teman juga menceritakan tentang kejadian yang serupa dialami oleh bos-nya. Sampai akhirnya si teman mengambil keputusan untuk mulai bertekad mengendarai mobil.
  3. Selanjutnya...?
Manakah dari ketiga cerita di atas yang berperan sebagai coaching, mentoring atau konseling? Apakah jelas perbedaan peran masing-masing dalam ketiga cerita di atas? Coba kaitkan dengan gambar di atas.

Referensi: 

Bresser, F., & Wilson, C. (2010). What is coaching. In J. Passmore (Ed.), Excellence in coaching: The industry guide (2nd ed.). Association for Coaching

Grant, A. M. dalam Yuliawan, 2011. Coaching Psychology: sebuah Pengantar. Buletin Psikologi, Vol. 19, No. 2, 2011: 45 – 54.

Whitmore, Sir Jhon. (2017). Coaching for Performance. The principles and practice of high-performance leadership (5th ed). Nicholas Brealey Publishing, London.


Komentar